PERAN DAN MANFAAT KUPU-KUPU

Diskusi Nusantara ke-80, Forci Development Fakultas Kehutanan IPB (16/04).

ForInCNews, Bogor – April 28, 2016. Serial Diskusi Nusantara ke-80 diadakan oleh Forci Development Fakultas Kehutanan IPB (16/04) mengangkat tema “Mengungkap Misteri Kupu-kupu” dengan pembicara Geo Septianella yang merupakan Prodi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi – Universitas Al-Azhar Indonesia. Pembawa Acara (Lila Juniyanti - Mahasiswa Program Magister Fakultas Kehutanan IPB) dan Moderator (Tarmidzi - Mahasiswa Program Sarjana Fakultas Kehutanan IPB). Kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Forci untuk meningkatkan keaktifan dan peran mahasiswa terhadap permasalahan yang terjadi di Nusantara.


Diskusi tersebut dihadiri pula oleh Kelompok Pemerhati Kupu-kupu “Sarpedon” Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB, kemudian mahasiswa ataupun alumni, serta perwakilan dari Pusat Informasi Kehutanan. Dunia kupu-kupu merupakan hal yang menarik untuk dipelajari, bagaimana mereka bertahan terhadap isu-isu global yang terjadi.


Kupu-kupu dan ngengat merupakan jenis serangga yang tergolong kedalam ordo Lepidoptera atau serangga bersayap sisik (lepis, sisik, dan pteron, sayap), dimana ketika hinggap atau beristirahat kupu-kupu memiliki kebiasaan menegakkan sayapnya sedangkan ngengat lebih cenderung membentangkan sayapnya. Warna sayap kupu-kupu biasanya terlihat lebih cerah dibandingkan dengan ngengat yang memiliki warna sayap lebih suram dan gelap. Lepidoptera mencapai 155.000 spesies yang dintaranya merupakan kupu-kupu sebanyak 12% dan ngengat 88%.


Kupu-kupu merupakan serangga yang tergolong memiliki siklus hidup holometabola atau metamorfosis sempurna. Prosesnya dimulai dari telur kemudian berubah menjadi ulat lalu kepompong dan selanjutnya menjadi imago. Proses tersebut dilaluinya dengan memakan waktu sekitar 30-50 hari sesuai kondisi lingkungan.

Terdapat 6 spesies kupu-kupu yang sering dijumpai, yaitu: Riodinidae sp., Papiliodinidae sp., Pieridae sp., Hesperiidae sp., Lycaenidae sp., dan Nympphalidae sp. Tempat tinggal kupu-kupu hampir disemua habitat, seperti di kebun, taman, hutan primer, hutan sekunder, tepi sungai dan habitat lainya yang ditumbuhi oleh tanaman inang kupu-kupu. Habitat tepi sungai menjadi sangat penting karena banyak tanaman inang kupu-kupu tumbuh disitu, selain itu tepi sungai pun menjadi jalur lintasan bagi kupu-kupu.


Peran kupu-kupu terhadap lingkungan yaitu sebagai: Bioindikator Lingkungan, Polinator, dan Inspirasi Inovasi Teknologi. Kupu-kupu dengan warna yang cerah mengindikasi bahwa lingkungan tersebut asri, sedangkan kupu-kupu dengan warna yang kusam atau gelap mengindikasi bahwa lingkungan tersebut tercemar. Warna kusam tersebut merupakan bentuk adaptasi yang dilakukan oleh kupu-kupu terhadap lingkungannya. Kupu kupu termasuk hewan yang membantu penyerbukan tumbuh-tumbuhan yang di sebut dengan polinator. Kupu-kupu menjadi inspirasi inovasi teknologi yaitu dengan menginspirasi pengusaha tekstil membuat bahan tekstil yang elegan dan susunan scale yang bertumpuk menjadi inspirasi terciptanya alat menyerap energi surya.

Kupu-kupu bukan hanya menyangkut keindahan ataupun habitat dan cara hidup mereka, namun permasalahan eksploitasi berlebihan yang tidak diiringi dengan pemeliharaan ataupun konservasi menjadikan permasalahan kelangkaan hingga kepunahan. Seperti contoh Ornithoptera paradisea (Kupu Sayap Burung Surga atau Butterfly of Paradise) yang ditemukan di Papua (Indonesia dan Papua Nugini).


Status konservasi IUCN Redlist:Least Concern.

Data monitoring yang dilakukan oleh “Kelompok Pemerhati Kupu-kupu”, kupu-kupu di IPB (Kampus Biodiversitas) setiap tahunnya mengalami penurunan jumlah spesies yang mungkin dikarenakan habitat yang sudah berganti dengan gedung-gedung kuliah.
Beberapa dampak yang dapat terjadi ketika punahnya kupu-kupu adalah tidak adanya Bioindikator Lingkungan, Polinator, dan Inspirasi Inovasi Teknologi. Selain itu kupu-kupu memiliki nilai yang sangat penting, yang dapat dikelompokan kedalam nilai ekonomi, ekologi, endemisme, konservasi, estetika, pendidikan, dan nilai budaya.


Langkah yang dapat diambil untuk mengatasi kelangkaan dan kepunahan kupu-kupu adalah dengan upaya konservasi dan pemanfaatan kupu-kupu secara lestari sesuai dengan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi. Penyediaan taman kupu-kupu menjadi salah satu cara konservasi yang sudah banyak diterapkan di Indonesia maupun dunia, banyak sekali taman kupu-kupu yang sudah dibangun diantaranya: Butterfly Garden, Phuket Butterfly Garden & Insect World di Dubai, Taman Kupu-kupu Gita Persada Bandar Lampung, Museum Serangga dan Taman Kupu-kupu TMII, Taman Kupu-kupu Cilember, Taman Kupu-kupu Cihanjung dan Taman Kupu-kupu Kemenuh (Indonesia).
Pemanfaatan secara lestari dapat menjadikan kupu-kupu tetap ada untuk menampakan warna-warni keindahannya.